Sunday, February 3, 2013

Jabal Rahmah (Arafah)



Jabal Rahmah ini terletak di Padang Arafah. Jabal Rahmah ini adalah tempat bertemunya nabi Adam as dengan Hawa, setelah berpisah bertahun-tahun lamanya. Sebagai kenangan, ada tugu batu di puncaknya.

Mengenai di mana Adam AS diturunkan oleh Allah SWT di bumi, terdapat banyak riwayat, antara lain:
1. Menurut riwayat Ibnu Abi Hatim yang diterima dari Abdullah bin Umar, disebutkan bahwa Adam AS diturunkan Allah SWT di bumi tepatnya di bukit Shafa dan Siti Hawa diturunkan di Bukit Marwa. Dalam riwayat lain yang juga dari Ibnu Abi Hatim yang diterima dari Abdullah bin Umar, disebutkan bahwa Adam AS diturunkan di antara negeri Makkah dan Thaif.
2. Menurut riwayat Ibnu Asakir yang diterima dari Abdullah bin Abbas, dikatakan bahwa Adam AS diturunkan di Hindustan (India) dan Siti Hawa diturunkan di Jeddah. Hal ini pulalah menjadi sebab bagi penamaan kota Jiddah/Jeddah. Arti Jiddah adalah nenek perempuan.
3. Riwayat lain yang tidak dijelaskan siapa nama periwayatnya mengatakan, bahwa Nabi Adam AS diturunkan oleh Allah SWT bukan di Hindustan dan bukan pula di Makkah, tetapi di pulau Serendib.
Syekh Jusuf Tajjul Khalwati dalam surat-suratnya yang dikirim dari Sailan (Ceylon) kepada murid- muridnya di Makasar dan Banten pada akhir abad ke-17 M, sebelum ia dipindahkan ke Afrika Selatan, selalu menyebutkan bahwa dirinya bersyukur karena di pulau pengasingan ini—pulau Serendib—tempat turunnya nenek moyang kita Nabi Adam. Ia masih dapat beribadah kepada Allah SWT. Maka Syekh Jusuf dengan demikian memegang pendapat yang umum pada waktu itu, bahwa pulau Serendib ialah pulau Ceylon yang terletak di Sri Lanka.
Tetapi dalam penyelidikan ahli- ahli terakhir menunjukkan bukti- bukti pula bahwa pulau Serendib bukanlah Ceylon, melainkan pulau Sumatera. Sebab, nama Serendib adalah bahasa Sanskerta yang di­tulis dengan huruf Arab. Aslinya adalah pulau Swarna-Dwipa, nama pulau Sumatera di zaman dahulu, sebagaimana juga Jawa-Dwipa nama bagi pulau Jawa.
4. Riwayat lain mengatakan bahwa Adam AS diturunkan di India (Hindustan), sedangkan Siti Hawa di Irak.

Riwayat yang paling umum, lokasi di mana Adam AS dan Siti Hawa dipertemukan oleh Allah SWT di Arafah, tepatnya di Jabal Rahmah, diabadikan oleh keturunannya sampai saat ini. Pertemuan antara Nabi Adam dan Siti Hawa di bukit batu tandus ini (Jabal Rahmah) yang penuh rasa haru dan kasih sayang ini pulalah yang melatarbelakangi penamaan bukit tersebut dengan Jabal Rahmah (Bukit Kasih Sayang). Sewaktu musim haji, banyak jamaah haji yang menyempatkan diri untuk naik ke bukit ini di sela-sela pelaksanaan ibadah wukufnya di Padang Arafah.

Menurut satu riwayat dikatakan bahwa Jabal Rahmah juga menjadi tempat wahyu yang terakhir diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu ketika beliau sedang melakukan wukuf. Wahyu yang terakhir yang dibacakan Rasulullah kepada jamaahnya tersebut adalah surah Al-Maidah ayat 3. “Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Sumber: Ensiklopedi Haji dan Umrah oleh Drs Ikhwan M.Ag dan Drs Abdul Halim M.Ag)
Sebelum saya pergi haji, saya sering mendapat oleh-oleh cerita akan praktek yg ga bener di sini, seperti menuliskan namanya, menempelkan fotonya, menempelkan foto kekasihnya, berdo'a di tugu di Jabal rahmah ini karena konon dengan tujuan agar pernikahannya langgeng, berjodoh dengan kekasihnya, dan sebagainya. Daaaan... saya melihatnya sendiri sekarang. meski sudah ada askar yang berjaga di sekitar tugu, sudah ada tulisan2 semacam "poster peringatan" agar tidak melakukan praktek-praktek serupa, tetap saja ada orang-orang yang melakukannya. Sedih rasanya, mengapa mereka melakukan itu? bukankah "ini" tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah? Sepertinya memang perlu dipahami dengan baik, agar kita tidak terjebak dengan praktek-praktek, yang mungkin malah merusak aqidah kita. naudzubillahi min dzaalik.


No comments:

Post a Comment